Selasa, 24 Februari 2015

Pembangunan Desa Harus Mewujudkan Kedaulatan Pangan

Rencana Presiden Jokowi untuk memberikan perhatian yang besar terhadap pembangunan pedesaan di Indonesia harus sejalan dengan agenda kedaulatan pangan dan energi nasional.

Oleh karena itu, semua pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah propinsi, kabupaten, pihak swasta dan masyarakat harus bersinergi dalam mewujudkan hal tersebut.

Pada bulan Juli 2013 BPS mengumumkan bahwa jumlah dan prosentase penduduk miskin di perdesaan masih lebih besar daripada di perkotaan. Dari 28,07 juta orang penduduk miskin di Indonesia pada bulan Maret 2013, 17,74 jutanya berada di perdesaan, sementara sisanya sekitar 10,33 juta berada di wilayah perkotaan.

Prosentasenya, 14,32 persen penduduk perdesaan masih miskin, bandingkan dengan penduduk miskin di perkotaan yang berkisar di angka 8,39 persen. Sejalan dengan hal itu, indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan di perdesaan masih jauh lebih tinggi dari pada di perkotaan.

Data statistik tahun 2013 mencatat, indeks kedalaman kemiskinan di perdesaan sebesar 2,24 sementara di perkotaan sebesar 1,25.

“Kesenjangan antara wilayah perkotaan dengan perdesaan menunjukkan bagaimana program pembangunan dan upaya pengentasan kemiskinan semestinya lebih diorientasikan kepada mereka yang berada di wilayah perdesaan,” ungkap Ketua Umum Himpunan Alumni IPB, Bambang Hendroyono dalam acara Agriculture Outlook 2015 di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (24/2/2015).

Dia menambahkan, sebagian besar penduduk miskin di perkotaan adalah mereka yang melakukan urbanisasi dari desa ke kota. Akibat lainnya, tentu saja, semakin berkurangnya jumlah tenaga kerja produktif di perdesaan karena penduduk mudanya lebih memilih mencari peruntungan ke kota.

Di sisi lain, Bambang juga mengingatkan agar agenda pembangunan desa yang nantinya akan dilaksanakan harus menjadi jalan bagi peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan yang mayoritas tinggal di desa.
“Dengan memastikan bahwa agenda kedaulatan pangan masuk di dalam program-program pembangunan desa di Indonesia, hal itu akan sejalan dengan maksud pemerintah menciptakan kedaulatan pangan dan energi nasional, sekaligus mengangkat harkat dan martabat petani dan nelayan Indonesia," jelas Bambang.
Sementara, Politisi PDI Perjuangan, Arif Budimanta, menyatakan keterpinggiran desa selama 30 tahun lebih memposisikan desa dan masyarakatnya sebagai pihak yang termarjinalkan di dalam republik ini.

Oleh karenanya, menurutnya, dibutuhkan tiga agenda strategis yang mesti dijalankan oleh pemerintah, yaitu politik anggaran yang berkeadilan di DPR, restrukturisasi kebijakan fiskal dalam konteks alokasi dana desa, dan memastikan agar agenda reforma agraria juga bisa diterapkan sejalan dengan rencana pembangunan desa.

“Hanya dengan demikian, rakyat desa bisa dengan bersemangat ikut serta dalam mendorong agenda kedaulatan pangan”, tegas Arif.

Sedangkan, Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB, Arif Satria, juga menekankan agar pemerintah memberi perhatian yang lebih besar kepada pembangunan desa-desa pesisir di Indonesia dalam kerangka meningkatkan produktivitas perikanan nasional.

Kendati demikian, Satria juga mengingatkan persoalan kerusakan lingkungan dan kemiskinan masyarakat pesisir akan menjadi pekerjaan rumah terberat dalam konteks pembangunan desa. “Persoalan perikanan dari hulu sampai hilir harus bisa diselesaikan dengan Sistem Logistik Perikanan yang menyentuh desa-desa pesisir, terutama yang berada pada daerah-daerah terpencil,” pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar